Memeriksa Hobonichi Techo 2025 yang saya beli tahun lalu, membawa saya pada satu kesimpulan pasti; saya tidak butuh planner fancy. Karena nyatanya, walaupun sudah beli planner seharga lebih dari setengah juta saya tetap nggak konsisten ngisinya. Padahal saya sudah dengan sangat PeDe nulis di sini kalau saya berharap banyak dengan kehadirannya, tapi ternyata sama saja.
Sepertinya ini pertama kalinya saya melakukan refleksi tengah tahun. Entah kesambet apa kemarin tiba-tiba kepikiran untuk bikin, dan setelah buka-buka planner saya pikir memang ada beberapa peristiwa yang sepertinya akan saya lupakan kalau harus nunggu akhir tahun untuk dibahas.
Saya nggak ingat kapan dan di mana saya menulis target tahun ini, tapi beberapa hal yang saya tuliskan di Notion adalah; Tilawah, Muroja'ah, Dars Khat, Translation Project, Quran Study Resume, Arabic, Japanese, Mandarin. That's a lot! Saya baru sadar sekarang kalau saya terlalu ambis dengan target-target ini. Dan ini belum ditambah dengan TBR yang saya buat lewat video ini.
Bisa dibilang, tahun ini memberikan saya banyak insight yang membuat saya tetap bertahan dengan pilihan hidup yang saya ambil dan beberapa peristiwa membuat saya berencana untuk membangkitkan lagi mimpi-mimpi lama yang sempat terkubur. Let’s see what comes up!
Januari
Karena masih awal tahun, saya masih semangat ngisi planner. Hal-hal kecil dan seru masih banyak yang tercantum di situ. Dari momen saya mulai nyetir motor sendiri, bikin cutting line stiker, baca ulang The Apothecary Diaries, sakit, sampai jadi panitia seminar parenting sekolah di akhir bulan.
Yang saya ingat, meskipun kewalahan saya masih menikmati bulan ini dengan semangat.
Februari
Bulan ini, saya sudah kehabisan energi 😂. Nggak ada apa-apa di planner selain daftar lagu di album barunya ONE OK ROCK. Untuk pertama kalinya, saya lebih suka nyimak album versi Internasional mereka daripada yang versi Japanese. Mungkin karena di telinga saya, mereka memang sudah kehilangan Japanese Taste-nya sehingga nambahin lirik berbahasa Jepang di lagu yang awalnya dibuat berbahasa Inggris nggak bikin lagunya jadi Japanese.
Sejujurnya saya masih berharap mereka akan kembali jadi Japanese Rock Band ketimbang Rock Band from Japan. Tapi dengan semua kritik, nyatanya mereka bisa meraih banyak pencapaian sampai jadi living legend di Jepang. Dan fans rewel macam saya pun tetap setia nyimak semua lagu mereka. Puppets Can't Control You jelas jadi lagu favorit saya di album ini.
Kalau tidak salah, di bulan ini juga saya mulai ngide untuk daftar beasiswa AAS dan mulai riset sana-sini soal beasiswa ini. Lalu,...
Maret
Awal bulan saya langsung latihan tes TOEFL gratisan di internet, dan dapat nilai 490. Sebenarnya nilai segitu sudah cukup karena saya berasal dari daerah tertinggal yang masuk priorotas AAS, tapi kalau saya tes TOEFL beneran dengan nilai segitu berarti nanti sertifikatnya nggak akan berguna untuk daftar beasiswa lain. Makanya saya buat target pribadi untuk dapat nilai 550. Terus janjian sama teman untuk minta bantuan milih jurusan, karena saya sebenernya juga nggak ada minat buat kuliah ke Australia jadi nggak tahu mau pilih jurusan apa 😅.
Pengalaman daftar beasiswa ini jadi momen yang paling enlighten buat saya. Karena saya jadi merasa sangat optimis dan bersemangat untuk mencoba walaupun nggak terlalu berminat sama subjeknya. Lalu saya tes TOEFL beneran di tanggal 21, dan hasilnya sesuai dengan harapan. Saya jadi makin PeDe dengan kemampuan bahasa Inggris saya 😊.
April
Bulan ini cuma ada 2 hal penting yang terjadi; lebaran dan sertifikat TOEFL.
Saya berharap di akhir tahun nanti kemampuan selain listening akan sampai pada level C1 juga.
Mei-Juni
Saking sibuk dan overwhelmingnya saya sampai nggak mengisi apapun di planner. Yang paling saya ingat adalah momen ketika saya kepo banget dengan pekerjaan freelancer yang berkali-kali saya lihat iklannya di Instagram, dan akhirnya saya mencoba membuat akun di Upwork. Saya nggak menyangka sama sekali kalau dalam percobaan pertama saya langsung dapat tawaran pekerjaan, dan sekarang saya terjebak dengan pekerjaan ini sampai entah kapan kontraknya berakhir 😂.
Kok gajinya kecil? Soalnya saya kerjanya cuma jadi admin, bukan designer atau yang keren-keren itu. Saya sendiri belum nemu tawaran pekerjaan sebagai virtual assistant yang menawarkan gaji sampai jutaan. Mungkin karena saya masih entry level, bisa jadi untuk yang expert gajinya lebih besar.
Disela-sela libur sekolah dan kerja, satu momen lain yang harus disimpan tentu saja adalah pulang kampung.
Bagi saya, matahari terbenam adalah waktu untuk 'pulang'. Dulu ketika masih kecil, saya biasa duduk di bangku beton, tepat di bendungan kecil saluran irigasi yang mengalir di belakang rumah saya. Gambaran pemandangan yang saya lihat setiap hari kurang lebih seperti di foto ini. Rasannya damai dan tenang. Kalau air irigasinya sedang mengalir, suasananya jadi lebih nyaman. Saya bisa duduk sendiri sampai matahari benar-benar tenggelam dan azan berkumandang dari masjid depan rumah. Kadang, kakak saya akan duduk bersama saya. Kadang juga, bahkan sekeluarga kami duduk sambil ngobrol ringan tentang kehidupan.
Sampai saatnya saya meninggalkan rumah selama sekian tahun dengan segala dramanya. Lalu ketika kembali, tempat itulah yang saya kunjungi pertama kali. Bersama dengan kakak, kami kembali memandang matahari sore sambil berdiskusi soal kuliah dan kehidupan di kota. Lalu kami menyadari, matahari jatuh tidak di tempat biasanya, agak jauh bergeser ke arah kiri. Lalu tercetus, "Jangan-jangan nanti ketika matahari benar-benar terbit dari barat, tidak ada yang menyadarinya. Karena selama ini diam-diam dia bergeser, sedikit-demi sedikit."
![]() |
| Photo by Rejaul Karim on Unsplash |
Tapi postingan kali ini bukan membahas tentang kiamat, tapi pada senja yang kemerah-merahan. Pekan lalu ketika diskusi tadabbur Surat Al-Insyiqaq, saya menemukan satu istilah baru yang disampaikan Mbak Trias; Sunset Anxiety.
Ternyata bagi sebagian orang, waktu senja justru menjadi titik refleksi yang menyakitkan. Waktu senja bisa terasa seperti 'kekosongan tak terisi', menandai masuknya malam yang sepi lalu akhirnya membuat mereka menjadi overthinking.
Hal ini bisa disebabkan karena ada tekanan dalam pikiran, "Hari sudah selesai, --apa yang sudah aku capai?" Bagi orang yang tinggal sendiri atau minim interaksi, senja berarti pintu menuju malam yang sepi dan sunyi. Dan biasanya, pikiran tentang masa depan atau kematian sering muncul menjelang malam saat aktivitas fisik menurun.
Saya lalu melakukan sedikit riset tentang istilah 'yang baru saya dengar' ini. Ternyata, sunset anxiety bukan diagnosis klinis melainkan sebuah istilah untuk perasaan cemas saat matahari terbenam di ujung hari.
Keadaan dimana cahaya alami yang berkurang bisa menyebabkan orang memiliki lebih sedikit energi dan motivasi. Kedua hal itu dapat menyebabkan perasaan cemas. Perasaan cemas atau ketidaknyamanan yang dirasakan karena orang memiliki lebih banyak waktu dan lebih sedikit cara untuk mengisinya setelah matahari terbenam. Secara psikologis, perubahan suasana hati itu bisa juga disebabkan oleh perubahan hormone. Produksi melatonin kita sensitif terhadap cahaya, dan sinyal-sinyal dalam tubuh kita bisa berubah secara tiba-tiba jika cahaya itu meredup. Perubahan ini dapat memicu perubahan suasana hati dan meningkatkan rasa lelah, karena ketika hari menjadi lebih gelap, tubuh bersiap untuk tidur. Sebagaimana yang tertulis dalam Surat An-Naba' ayat 10;
وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًۭا
Malam yang terasa 'menyelimuti' ternyata terasa berat bagi sebagian orang.
Dalam artikel lain, saya menemukan sebab lain yang memicu sunset anxiety adalah perasaan telah 'menyia-nyiakan waktu'. Ketika seseorang merasa masih banyak yang harus dia kerjakan sementara hari sudah hamper berakhir, saat itulah dia merasa cemas. Lebih lengkap tentang ini bisa dibaca dalam buku Toxic Productivity: Reclaim Your Time and Emotional Energy in a World That Always Demands More. Keadaan yang dalam buku itu disebut sebagai 'productivity guilt' terjadi karena kita memiliki ekspektasi berlebihan untuk dicapai dalam jangka waktu tertentu. Ketika kita gagal memenuhinya, kita merasa bersalah. Dan hal ini tidak selalu berhubungan dengan pekerjaan: Pola pikir toxic productivity ini juga bisa mencakup tekanan untuk menghabiskan waktu liburan dengan 'bijak' dan 'memanfaatkan' malam hari, liburan, atau akhir pekan 'dengan benar'.
Anticipatory anxiety --ketika kita mengkhawatirkan masa depan-- juga bisa berperan. Ketika hari berakhir, kita teringat tentang segala sesuatu yang belum atau tidak bisa kita lakukan dan kita tahu bahwa besok akan dimulai dengan tugas-tugasnya sendiri, sehingga hal-hal yang belum kita selesaikan akan terasa lebih berat.
Alasan lain yang cukup menarik bagi saya adalah waktu. Dalam artikel ini dijelaskan bahwa kita yang seringkali sibuk, fokus untuk menyelesaikan tugas dan menjalani hari. Tidak ada waktu untuk kecemasan merayap masuk dalam hari itu. Ini seperti sebuah lemari; kita memasukkan semua pikiran dan perasaan ke dalamnya dan melupakannya. Mereka --pikiran dan perasaan itu-- tidak pernah hilang. Kita hanya tidak memprosesnya. Sehingga Ketika kita akhirnya bisa beristirahat dari kesibukan saat matahari terbenam, rasa cemas akan muncul dengan sendirinya. Masa-masa saat tidak ada kewajiban ini juga membawa ketidakpastian tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, dan jika kita merasa lelah setelah seharian bekerja keras, kita mungkin tidak memiliki sisa-sisa energi kognitif untuk memutuskan apa yang harus dibuat untuk makan malam atau sekadar berjalan-jalan santai.
Senja sebagai tempat pulang
Seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini, bagi saya senja berarti waktu untuk 'pulang'. Pulang dari segala kepenatan yang sudah saya alami sepanjang hari. Mungkin karena saya adalah introvert, menyendiri di dalam rumah bagi saya adalah ketenangan. Ditambah dengan pengalaman masa kecil yang selalu mendapat hadiah pemandangan indah setiap hari di waktu senja, maka matahari terbenam bagi saya menjadi seperti sebuah kebebasan. Rasanya damai ketika menyadari bahwa ini adalah saatnya pulang ke tempat di mana saya seharusnya berada. “Akhirnya hari ini selesai. Aku bisa pulang. Aku bisa tenang.”
Namun saya mendapat perspektif lain ketika mengkaji Surat Al-Insyiqaq, terutama di ayat 16;
فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ
Allah bersumpah demi merahnya waktu senja. Ayat ini menunjukkan kemegahan langit saat senja sebagai tanda kekuasaan Allah dan transisi besar dalam siklus harian. Senja adalah titik antara terang dan gelap, yang sering dikaitkan dengan keterjagaan hati, kesadaran, dan perubahan. Memang tidak disampaikan dalam kajian tafsir yang saya simak, tapi saya merasa bahwa waktu senja itu adalah simbol kematian. Syafaq bagi saya adalah simbol kefanaan. Waktu yang sebentar lagi lenyap. Sama seperti kehidupan di dunia, yang akan mulai menuju akhirnya ketika sakaratul maut menjemput.
Dan jika kita berusaha lebih positif, dalam kalender hijriah waktu maghrib adalah awal dari hari baru, bukan akhir. Maka jika kita sudah memasuki waktu maghrib, sesungguhnya kita sudah menjalani hari yang baru. Sudah saatnya move on, lupakan semua yang membuat hati kita penat di hari ini. Kita persiapkan diri untuk awal yang baru. Kematian pun sama, merupakan awal yang baru bagi jiwa kita. Kematian hanyalah akhir dari dunia, dan memang bukan dunia tempat kita seharusnya. Dan lagi, sebagaimana langit senja yang selalu memberikan keindahan di setiap harinya, kematian juga merupakan proses transisi yang indah. Oleh karena itu, banyak salafus shalih begitu merindukannya.
Senja sebagai pengingat
Waktu senja menjadi salah satu waktu yang utama untuk berdoa, terutama pada hari-hari tertentu. Pada hari biasa, kita disarankan untuk berzikir, mengingat Allah di saat-saat menjelang matahari terbenam. Ini bisa jadi salah satu cara untuk meredakan anxiety yang mungkin kalian alami.
Menulis jurnal juga bisa jadi pilihan tambahan. Setelah berzikir, cobalah tulis 3 hal yang kalian syukuri di hari itu. Mungkin bukan hal besar. Sesederhana menu makan yang rasanya enak, atau kelancaran dalam menjalankan tugas, atau sekadar senyum dari teman-teman kerja. Terlalu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita setiap hari, hingga nikmat untuk terlahir/bangun kembali di pagi hari sesungguhnya adalah nikmat yang sangat layak kita syukuri. Lebih bagus lagi jika menulis jurnal ini dilakukan sambil menikmati matahari terbenam.
Jika harimu tidak produktif, atau berantakan semua, ceritakan kepada Allah. Mungkin kamu bukan tipe yang bisa menulis cerita, maka bicaralah padaNya dalam diam. Allah Maha Mendengar, bahkan jika hanya hatimu yang merintih Ia bisa mendengarnya. Atau jika tidak terjadi apa-apa di hari itu, maka tidak apa-apa. Hari yang 'terasa kosong' tetap punya makna: mungkin itu hari istirahat jiwa.
***
Semakin sibuk kita di dunia, semakin terhalang kita dari alam tempat belajar, sepertinya kebutuhan untuk memperlambat laju langkah kita jadi semakin mendesak. Dalam lambatnya senja, ini momen untuk bertanya “apa yang sedang aku kejar?” bukan hanya “apa yang sudah hilang?”
Mukadimah
Al-Qur'an diturunkan untuk mengubah dan memperbaiki pola pikir. Kita sering menyederhanakan hal ini dengan ungkapan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk.
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ
"Ramaḍân is the month in which the Quran was revealed as a guide for humanity..." (QS Al-Baqarah: 185)
Jika kita perdalam lagi makna dari kata 'petunjuk', ada satu poin yang jarang kita renungkan yaitu Al-Qur'an membawa cara berpikir yang benar-benar berbeda dengan apa yang selama ini mungkin diwariskan ke dalam benak kita sebagai manusia. Secara khusus, jika kita tempatkan Al-Qur'an dengan konteks masyarakat Arab di zaman Al-Qur'an diturunkan.
Al-Qur'an dulu turun kepada kaum yang buta huruf, masyarakat yang tidak unggul secara militer ataupun teknologi. Masyarakat yang pola berpikirnya hanyalah sekitar padang pasir, menggembala kambing, gurun dan langit terbuka. Yang menjadi fokus kehidupan mereka pada saat itu hanya berkisar keberlangsungan hidup mereka di dunia. Lalu ketika Al-Qur'an diturunkan, tiba-tiba dalam 23 tahun mengubah masyarakat yang berada dalam pinggiran peradaban menjadi komunitas yang solid dan memiliki visi dan misi yang kokoh serta menghasilkan manusia yang berkualitas yang sangat unggul sehingga bisa mengalahkan peradaban-peradaban besar yang jauh lebih unggul.
Salah satu rahasia perubahan itu adalah karena Allah menurunkan Al-Qur'an yang diantara ayat-ayatnya berbunyi, مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ...
Ayat-ayat itu mengubah cara berpikir manusia yang sangat sederhana, yang mungkin dibatasi oleh alam yang melingkupi kesehariannya menuju berpikir tentang objek di luar dirinya yang jangkauannya melampaui jangkauan fisik manusia. Al-Qur'an turun membawa seperangkat pengetahuan bahwa kehidupan manusia itu jauh lebih bermakna dan memiliki tujuan yang lebih luhur dibanding sekadar memenuhi kebutuhan manusiawi.
![]() |
| Photo by Etienne Girardet on Unsplash |
Secara historis, hari pembalasan adalah sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh orang-orang yang hidup di zaman itu. Konsep tentang kehidupan setelah mati membawa gagasan baru bahwa kelak di hari akhir mereka bisa mendapatkan keadilan yang hakiki, pertanggungjawaban yang haq, sehingga kehidupan di dunia menjadi lebih bermakna dan memiliki nilai dan tujuan yang luhur daripada sekadar menunaikan hajat-hajat keseharian.
Adanya gagasan tentang kehidupan yang abadi itu, bisa menaikkan kualitas pribadi manusia-manusia zaman itu menjadi generasi terbaik. Kemampuan Al-Qur'an dalam mengubah cara berpikir itu yang membuat mereka mau mengimani seseorang yang tidak memiliki latar belakang kekuasaan maupun kekuatan di jazirah Arab, hingga mampu membuat mereka menyeberangi lautan demi menegakkan Islam ke seluruh dunia.
Maka seharusnya pembacaan kita terhadap ayat-ayat tentang hari kiamat itu juga membawa kita kepada cara pandang yang berkualitas. Dalam skala paling minimal, mestinya bisa memberikan kita cara pandang baru untuk memaknai aktivitas kita.
Pokok-pokok Iman kepada Hari Kiamat
Mengimani hari kiamat merupakan konsekuensi logis dari adanya konsep perhitungan dan pertanggungjawaban. Tanpa konsep ini, maka kehidupan ini menjadi tidak bermakna (meaningless). Kita tidak akan punya tujuan dan nilai dalam hidup tanpa memiliki konsep pertanggungjawaban semacam ini. Islam adalah satu-satunya agama yang membahas konsep ini dengan sangat jelas. Ketika kita membaca Al-Qur'an dan menemukan ayat-ayat yang membahas kehidupan setelah kematian, kita akan mendapatkan satu persepsi yang utuh tentang bagaimana dan apa yang akan kita alami.
Hari kiamat adalah bagian dari keadilan Allah swt. Dengan mengimani hari kiamat maka kita akan meyandarkan harapan sepenuhnya hanya kepada Allah swt. Setiap hak yang terampas, setiap diri yang terdzalimi, semua akan mendapat keadilan kelak di hari kiamat. Dengan keimanan ini, kita tidak akan mempertanyakan keadilan Allah di dunia karena menyadari bahwa keadilan yang hakiki adalah setelah hari kiamat tiba.
Kesempurnaan keadilan Allah itu didetilkan dengan kesempurnaan catatan Allah swt. Catatan Allah swt tidak bisa diedit dan dimanipulasi. Kesempurnaan catatan ini karena kesempurnaan pengetahuan Allah. Tidak ada yang dilupakan Allah.
Dengan keimanan ini akan memotivasi kita untuk sadar terhadap kebangkitan dan pertanggungjawaban. Ini memotivasi kita agar beramal lebih baik lagi, dalam skala sekecil atau sebesar apapun. Kepercayaan terhadap hari kiamat memberikan koridor amal dalam segala aspek kehidupan manusia.
Nama-nama Hari Kiamat
Yaumul Qiyaamah; istilah kiamat terulang kurang lebih 70 kali dalam Al-Qur'an. Kiamat secara bahasa artinya bangkit - kebangkitan. Bahkan ada satu surat khusus yang diberi nama Al-Qiyamah
Yaumul Aakhir
As-Saa'ah; dalam bahasa Arab kata ini merujuk pada dua makna utama, yaitu; sebagian waktu yang tidak definitif, dan satu peristiwa yang terjadi mendadak. Hari Kiamat adalah masa yang tidak diketahui kapan terjadinya dan akan terjadi secara tiba-tiba sehingga membuat manusia kaget dan takut.
Yaumul Ba'ts
Al-Qaari'ah;
Yaumul Fashl; Hari di mana keputusan besar terjadi
Yaum ad-Diin; Hari pembalasan.
Apa yang Terjadi pada Hari Kiamat?
Kemusnahan semua makhluk. Setiap yang ada di muka bumi adalah fana, dan akan binasa dan kembali kepada Allah swt. Setiap makhluk memiliki awal dan akhir maka setiap makhluk pasti akan musnah. Kemusnahan ini akan ditandai dengan peniupan sangkakala pada hari Jum'at. Tiupan sangkakala akan terjadi untuk memusnahkan seluruh makhluk, lalu akan ditiupkan kembali untuk membangkitkan seluruh manusia. Setelah peniupan sangkakala ini Allah menaktidrkan kebangkitan setelah kematian. Manusia bangkit dari kuburnya seperti serangga yang bertebaran, dengan fisik yang baru berasal dari tulang ekor. Orang-orang kafir akan bangkit dalam keadaan kaget dan menyesal.
Setelah dibangkitkan, manusia akan dihimpun ke padang mahsyar dalam keadaan telanjang sebagaimana ketika baru dilahirkan. Ini merupakan satu isyarat penting bahwa tidak ada apapun yang bisa disembunyikan di hadapan Allah swt. Allah swt mensyariatkan pakaian kepada manusia, salah satu tujuannya adalah untuk menutupi kekurangan dan supaya kita tidak malu di hadapan orang lain. Namun di hadapan Allah swt tidak ada yang bisa kita sembunyikan. Padang mahsyar adalah hamparan luas yang berbeda dengan hamparan yang ada di bumi. Tidak ada yang menghalangi pandangan, seperti pohon atau gundukan (bukit). Keadaan manusia pada saat itu dalam keadaan kalut dan matahari dekat sekali dengan manusia dan panasnya sesuai dengan kondisi keimanan dan amal masing-masing manusia.
Setiap manusia akan mencari syafa'at kepada para nabi karena kegelisahan yang mereka rasakan. Nabi Muhammad saw mendapatkan hak istimewa untuk memberikan syafa'at yang disebut Syafa'at Uzhma; yaitu untuk mempercepat proses hisab umatnya. Manusia akan dihisab sesuai dengan amalnya. Ada yang mengalami hisab yang mudah ada hisab yang sulit. Hisab yang mudah adlaah ketika amalan hanya ditampilkan secara umum dan tidak dipertanyakan satu per satu. Hisab yang sulit adalah ketika setiap amalnya diperiksa dengan detil maka itu akan mendapatkan azab.
Setelah dihisab, setiap amal akan ditimbang di mizan. Al-Mizan adalah manifestasi dari keadilan Allah swt. Dan timbangan ini tidak ada cacat sama sekali. Dalam proses penimbangan ini akan ada penambahan atau pengurangan amal yang terkait dengan hak-hak orang lain. Penimbangan ini sangat adil, sehingga tidak ada satu pun yang luput sedikitpun. Di sinilah orang-orang yang bangkrut akan mendapatkan keadilan, di mana amal-amalnya akan dikurangi tergantung dengan kedzaliman yang dia lakukan kepada orang lain selama di dunia.
Di jembatan (Shirat) manusia akan digiring berdasarkan nasibnya masing-masing. Ahli surga yang tidak didahului neraka akan langsung menuju surga. Ahli neraka akan langsung jatuh ke neraka, sementara mukmin yang bermaksiat akan menerima konsekuensi maksiatnya.
Catatan Kajian Tadabbur Ayat-ayat tentang Hari Kiamat oleh Ustadz Faris Jihady, Lc. M.A.
Telah menjadi keharusan atas kita semua, untuk mengulang kembali apa yang telah kita dengar, dan saling mengingatkan satu sama lain atas apa yang telah kita hafal dan kita baca.
![]() |
| Photo by Corina Rainer on Unsplash |
Seorang penuntut ilmu memiliki ciri khas, akhlak, mampu menorehkan bekas terhadap dirinya dan orang lain. Tidak ada kebaikan pada seorang penuntut ilmu yang tidak menampakkan akhlak, kehormatan, wibawa seorang ahli ilmu.
- Niat yang ikhlas karena Allah dalam mencari dan mendapatkan ilmu
- Membaca kitab-kitab yang ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan, menuntut ilmu, dan adab-adab penuntut ilmu. Jika ia membaca sejarah para penuntut ilmu dari kalangan salaf, maka ia akan mengetahui kemampuan dirinya dan mengetahui bahwa ia belum mencapai apa pun dibanding dengan apa yang mereka capai.
- Mendahulukan yang lebih utama dalam mencari ilmu
- Peringatan dari tindakan merasa lebih berilmu. Ini adalah tempat masuk setan yang tersembunyi atas kebanyakan orang; dimana seorang penuntut ilmu bila ia sedang bersama dengan orang yang lebih sedikit ilmu darinya.
- Memuji Allah Ta'ala ketika menyebut namaNya
- Mengucapkan shalawat dan salam atas nabi ﷺ ketika menyebut namanya
- Mengucapkan radhiyallahu 'anhu terhadap para sahabat radhiyallahu 'anhum ketika menyebut nama mereka
- Mengucapkan rahimahullah pada penyebutan ulama
- Tidak menyandarkan perkataan kepada referensi kecuali jika ia membaca informasi tentangnya
- Tidak menisbatkan hadits kepada selain ash-shahihain jika itu terdapat pada keduanya atau salah satunya
- Memastikan dalam melakukan penukilan
- Menyandarkan faedah kepada pemiliknya
- Tidak merendahkan faedah ilmu meskipun sedikit
- Peringatan dari menyembunyikan faedah ilmu, dan dari usaha untuk berlaku mementingkan diri sendiri daripada orang lain terkait faedah ilmu
- Peringatan dari mengambil syahid (dalil penguat) dengan hadits lemah dan palsu
- Tidak melemahkan suatu hadits kecuali setelah melakukan pembahasan dan bertanya
- Tidak menganggap remeh permasalahan yang ditanyakan kepadanya
- Membawa catatan kecil untuk menulis setiap faedah dan permasalahan
- Berusaha menyesuaikan pembicaraan pada setiap momen, atau pada setiap kejadian yang terjadi, atau pada setiap musim sebelum musim tersebut tiba
- Peringatan dari terlalu sibuk dengan hal-hal yang mubah
- Menjauhkan diri dari kesibukan terhadap sesuatu yang tidak utama, dan meninggalkan sesuatu yang utama
- Mengunjungi beberapa perpustakaan dan menelaah kitab-kitab yang ada
- Mengontrol perpustakaan pribadi
- Menghindari generalisasi istilah yang serupa dalam lafadz; ini biasanya dilakukan dalam penulisan kitab
- Semangat untuk membaca kitab-kitab yang menjelaskan tentang istilah-istilah yang digunakan para penulis, atau yang menerangkan tentang metode kitab, atau juga pembahasan kitab
- Tidak terburu-buru dalam memahami suatu perkataan
- Memperbanyak membaca kitab-kitab fatwa
- Tidak terburu-buru dalam menafikan keumuman
- Jika engkau menyampaikan hadits secara makna, maka jelaskanlah hal itu
- Menjauhi penggunaan lafadz-lafadz yang menunjukkan pengagungan dan kebesaran untuk memuji diri sendiri
- Menerima masukan dan nasihat dengan lapang dada
- Ketidakacuhan terhadap sedikitnya orang yang mengambil manfaat
- Peringatan dari menghabiskan waktu dalam mencari beberapa perkara yang tidak ada manfaat darinya
- Tidak sibuk dengan faedah-faedah lain di tengah pengkajian terhadap suatu permasalahan
- Tidak tercerai-berai di tengah bacaan
- Tidak berbelit dalam memilih lafadz
- Peringatan terhadap perkataan tanpa ilmu, dan merasa berat untuk meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban
- Tidak terpengaruh dengan hinaan yang sifatnya pribadi bila agamamu selamat
- Tidak putus asa dan kecil hati dalam menuntut ilmu, dan waspada terhadap patah semangat. Seandainya engkau tidak memperoleh ilmu pada hari ini, maka kerahkanlah kesungguhanmu untuk hari kedua, ketiga, keempat, setahun dan dua tahun. Engkau telah mengetahui bahwa penguasaan menurut para ahli hadits terbagi menjadi dua:
- Penguasaan hati (kuatnya hafalan)
- Penguasaan kitab












.jpg)
